Menjalani usia yang kau percaya ada sebagai tanda kau telah menua, adalah beban yang harus kau pikul setiap hari. Setiap hari pula kau harus menampung segala kekhawatiran, amarah, dan perasaan yang kau sendiri tidak begitu memahami. Malam-malam yang seharusnya jadi waktu kau merebahkan segala lelah, justru kau jadikan masa kau mengingat segala kepedihan, kebodohan, dan segala kenangan yang kau sesali pernah ada. Belum lagi bantal-bantal yang kusam akibat kau taruh di lantai untuk mendinginkan badan yang kau hasilkan dari pikiran yang kacau balau dan kipas angin yang terus menyala, sepanjang malam dan seusia pikiran. Orang-orang yang dulu sempat hadir kini lesap dan menyisakan memori-memori yang makin membuatmu penasaran akan skenario yang Tuhan berikan.

Kadang sempat-sempatnya kau memikirkan ketiadaan atau ingin menghilang. Kau merasa sudah tidak tahan, makin terpuruk dan tergelincir ke dalam jurang kesayuan. Kendati demikian, semakin banyak rasa perih yang kau terima atau sengaja kau undang dalam hidupmu, nyatanya mampu membuatmu sedikit kebal untuk mementalkan masalah yang makin datang. Kau sadar, kau telah melewati yang terburuk, sehingga kedukaan yang kecil hanya terasa begitu sepele. Seolah kau pasrah menerima segala konsekuensi dari jalan hidup yang telah kau putuskan. Apabila kau keluar jalur, kau telah siap sedia untuk terjatuh dan tersungkur, seperti yang telah Putu Wijaya katakan dalam puisinya “bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata”. Barangkali, dengan kau telah terperosok ke jurang yang paling dalam, kau bisa lebih mawas hidup agar tak lagi berjalan ke persimpangan yang sama.

Usia yang menimpa dan menganugerahimu, rasanya sebagai alarm untuk melepaskan segala ekspetasi ke jembatan realita. Meski kau bisa saja terjatuh dan terperosok lagi di kayunya yang rapuh, kau telah berusaha melawan pahit kehidupan. Dan tak apa sekali-sekali tak ingin menjadi diri sendiri. Namun jangan berhenti melibatkan nurani. Kau selalu bisa pulang meski tak pernah punya rumah. Kau punya Tuhan untuk mengadu dan kekasih yang kau percaya nyata. Di usiamu, kau merasa kau begitu ingin memiliki orang yang mencintaimu dan benar-benar ada di situasi tersulit dan terhebatmu. Kau melupakan wujud dan memeluk hati. Layaknya Tuhan, kau bisa mencintainya meski kau tak pernah tahu rupanya.

Selepas masalah, kau menemukan dirimu dengan perasaan yang lebih matang, kau mampu mengatasi segala yang terjadi dengan solusi dan nurani. Bahkan di sela-sela itu, kau tidak melupakan maaf, tolong, atau terima kasih sebagai penyedap kehidupan untuk menyadari kau memang tidak pernah bisa hidup sendiri.

If you need your space, Then just walk away

If you need your space, Then just walk away