Kopi atau bubur bertumpukan di sudut lengang mengudara pasi di sela ruang menyambut kematian didulang mulut para bangsawan. Gelabahku membau jelaga lebih menyengat dari pauk mewah yg tumpah di hidangan yang megah. Di sudut kaumku, aku mengungkung dogma ranggup dan jangka seperti berjalan dengan kaki satu. Dari sudut punggung-punggung, aku berlaku babu yang tak larat menjajari bahasa pangeran dan aksen yang pekat. Sedang, dari belakang barisan ini, giliranku mencium kaki atau memberi bingkisan untuk james. Sebelum mereka memenggal kepalaku dan membacakanku ayat-ayat demonologi.

Aroma pasak kunci menyengat ketika kakiku menyentuh karpet dan wajah anne yang satiris. Dan dari bibir james aku tertunduk dungu sekaligus membenci. Dari sudut bawah jambangnya, tangisan dan kecupan perempuan-perempuan sebelum dipenggal. Aku gugup layak hawa di depan rahwana. Tetapi di dalam dadaku gemuruh penasaran membasuh rasa malu. Aku membangkang. Meneriakan keadilan dan mendemokan kecupan-kecupan malam james sebelum kerakusan dan kerasukan. Mereka saling bertatapan dan kue-kue itu bercipratan dari mulut-mulut yang urdu. James, mati gagu dan menatap maut tubuhku yang kelam pada masa lampau yang enggan melepaskan. Bola matanya memerintahkan pelebaya memasang kalung rantai dan menyayat dadaku dengan dengan badik. Aku siap digantung. Ah james, kalau ini pesta pernikahan kau berlebihan mengerjaiku. Kalau ini kematian, kau terlalu manis untuk mengantarku.

Kemerdekaan cinta dapat direngkuh. Di hadapan para saksi dan perempuan-perempuan yang kau teriaki penyihir, aku ingin beberapa menit menjadi rumi dan mengecupkan puisi di dahimu yang kerdut dan aku mati.

If you need your space, Then just walk away

If you need your space, Then just walk away