Perihal Januari dan Yogyakarta

1

Yogyakarta, 2 Januari 2021. Kurentangkan lengan dan doa dari selatan jawa hingga ke utara pulau panjang. Menembus petualangan dan kesedihan yang bukan kepalang. Di deru ombak dan sepanjang pesisir pantai, kugelarkan lagi daftar kepedihan dan salam perpisahan.

Pada pencarian diri sendiri dan tafakur di langit dan lautan, kubangun rumah di landai pantai, bekas nama dalam sebuah nisan, kehidupan yang telah mati di telapak gunung, dan seluruh isi kepala dan rahasia keras ombak laut selatan. Dengan tubuh berbungkus selendang dan sebuah kacamata hitam yang kubeli di beringharjo, kususuri panjang tritis yang membentang, mengingat betapa banyak kesedihan dan kepergian karena sebuah kebodohan yang ulung.

2

Ada yang tak ikut kubawa. Atau sengaja memang kubiarkan. Kulepaskan semata. Menerima kesedihan jadi lebih lapang. Sehingga menjalani kebaruan jadi lebih gampang. Aku tak berniat melupakan. Tidak dalam satu pun pikiran. Hanya memisahkan sejarah yang otentik, yang tak tertuang, dari aksara dan segala jenis bahasa. Atau kelakar orang-orang yang bercerita dengan kata, dengan mata di belakang kepala.

Dalam kehampaan yang runyam, sering kupikirkan berkali-kali akar yang mengawaliku dulu. Awal mula kening yang menyambungkan belikat dengan rusuk yang melebur rasa dan retak tulang. Pitarah tanpa nama yang menyembunyikan pusaka dalam seberang bayang. Juga utas air mata yang beku di nanar bulan. Acap kali kularungkan kunang-kunang untuk menemukan tali pusar yang raib di perut laut. Kerlap kuning cahaya yang menggugurkan kepulangan. Menggagalkan kepergian yang terlanjur kemudian.

3

Namun, hingga hari ini, menerawang ke kedalaman bagai memasukkan diri ke dalam jurang terseram. Tempat semayam arwah yang menjaga rahasia-rahasia. Seperti memungut tanda tanya yang semula dan menggantungkannya kembali ke tempat yang sama.

Yogyakarta — 2 Januari, 2021 — masih tak tahu kenapa menulis ini.

If you need your space, Then just walk away

If you need your space, Then just walk away