LAMUNAN SENJA DI PANTAI PANJANG

Menyaruk kantung mata hitam

Kau tafakur pada langit dalam kebisuan

Menjadi mantra episode hidup yang baru saja

Menggondol seluruh asa

Dan kutukan-kutukan lainnya

Juga langkah takdir

Yang gemetarkan anyelir dan tumpukan pasir

Pada kegelapan

Kepala pandai menggambarkan kefanaan

Menyahut redup langit-langit pesisir

Dalam desis klakson-klakson delman

Kendati kesuwungan tak pernah lekang

Menyelati alur waktu dan dinding karang

Juga jagat paling malang

Ombak berkejaran

Ketukan landai pantai

Di bukit-bukit jauh burung berserakan

Menghampiri sisa-sisa bangkai

Kau menempatkan diri sebagai

Daging yang rela dimakan

Kemudian menjelma sebagai rupa paling ungu

Kau menatap camar

Pada langit-langit merah

Di penjuru langit di atas lautan

Kau temukan seluruh kecemasan

Bertekat menceburkan diri ke perairan

Atau khusyuk semedi pada kediaman

Kau begitu rapuh jatuh dalam kemurungan

Lalu kau berjalan

Menemui segala kemungkinan

Menyapa para kepiting dan ikan-ikan

Barangkali mereka segan berkawan

Kendati kau tahu, kau bukan hewan

Kau hanya insan yang belum matang

Menemui kenyataan dan kedewasaan

Di kedalaman laut

Kau menyadari kebenaran

Kau tak bisa berenang

Terlebih pada arus samudra

Yang siap melahapmu

Yang mungkin lebih hening

Sebagaimana kesedihanmu

Kini kau menepi

Menemui landai pantai

Kau berzikir pada pasir-pasir

Meminta keselamatan sekali lagi

Kau lalu pandai merangkum kata-kata

Sebagai penyesalan

Sebagai akhir kata dari kesimpulan

Betapa hidup hanya antara jeda atau benar-benar tiada

If you need your space, Then just walk away