Di balik mata perempuan dan cinta tak bersyarat Lucie Manette

Bising lengang dan tak pernah ada bahu yang senggang untuk kurebahi. Malam-malam terasa begitu asing, dan aku begitu memikirkan ketiadaan, namun juga tak pernah bisa menghilang. Di atas ranjang, bacaanku dari buku-buku yang menumpuk belum juga kubuahi.Tubuhku kelam pada masa lampau yang enggan melepaskan atau gegas pada resah panas dada. Namun ingatanku terpaku pada satu nama yang begitu indah bagiku perempuan, terlebih untuk seorang lelaki.

Selain pakaian yang ia kenakan menjadi lusuh, barangkali yang paling ia takutkan ialah lelaki yang akan ia sembah agar mencintainya. Kegelisahannya ialah menenggelamkan hatinya terlalu dalam kepada seseorang yang belum tentu ada atau mungkin tidak. Terlebih di tiap sisa-sisa sore yang ganas, kerinduan membuatnya menyerahkan nyawa kepada siapa saja ksatria yang sudi memungut ketulusannya. Ia adalah bentuk dari segala keindahan, nada dari segala kemerduan, rupa dari segala kerelaan, sedaya darat dan segara. Siapa saja boleh tak percaya, namun dickens telah memerikan dalam kata dan elok tiada tara dalam rupa nyata.

Lucie, durja semua impian dan harapan dari segala kebaikan. Dan kejujurannya menyuap ksatria manapun menjadi lebih utuh dari tubuh yang dilapis lamina, menemukan kekuatan melarikan diri dari penjara kehidupan dan bersembunyi di pelukan hangat dada seorang perempuan. Di balik puncak keanggunan Lucie Manette, disitu adalah selama-seterusnya alasan perasaan tak memiliki muasal.

Lucie, ialah diam yang paling menyakitkan. Di balik maha tenangnya, ia berperang mati-matian, bahwa ia lebih dari segala hal yang ia terjemahkan. Barangkali memang dickens mencintai perempuan dan menciptakan Lucie sebagai simbol kerelaan untuk dilahap kekaguman.

Ah, betapa Lucie bentuk kerendahan hati yang mengiris keserakahan. Entahlah, aku hendak membacanya hingga usai. Membayangkan perasaan melesat lebih dekat, mendekap lebih erat dari bibir-bibir yang bisu tanpa kecupan di malam-malam yang panjang. Bila cinta petandang mencuri nyawaku, ketahuilah aku bahagia. Sebab air mataku yang jatuh karena mencintainya memberi kehidupan pada kematianku. Di sayatan yang kupunya, disitu terselip doa-doa seperti Lucie yang menginginkan pembalasan atas cinta yang tak pernah melukai. Tak lain datang dari sajak-sajak yang terlanjur kuyakini.

If you need your space, Then just walk away